Pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya di bedakan dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran sebuah bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan sebuah bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.


Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. kompetensi merupakan suatu proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses, yakni proses pemahaman dan proses menghasilkan kalima-kalimat. 


Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati kalimat yang di dengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi, kemampuan linguistik terjadi dari kemampuan memahami dan kemampuan melahiran kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik transformasi generatif disebut perlakuan atau performansi.[1]sedangan teori-teori dalam pemerolehan bahasa adalah:

Teori Hipotesis Nurani

  • Hipotesis nurani berakar dari beberapa pengamatan yang di lakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak. Di antara hasil pengamatan Chomsky adalah sebagai berikut 

  • Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja di perkenalkan pada bahasa ibunya itu. Maksudnya, dia tidak di asingkan dari kehidupan ibunya(keluarganya)

  • Pemerolehan bahasa tidak ada hubunganya dengan kecerdasan kanak-kanak. Artinya, baik anak yang cerdas maupun tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu.

  • kalimat-kalimat yang di dengar kanak-kanak sering kali tidak gramatikal, tidak lengkap dan sedikit jumlahnya.

  • Bahasa tidak dapat diajarkan kepada mahluk lain, hanya manusia yang dapat berbahasa.

  • Proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun sesuai dengan jadwal yang erat kaitanya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak.

  • Struktur bahasa sangat rumit, kompleks dan bersifat universal. Namun dapat dikuasai oleh kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu antara tiga atau empat tahun saja.

Berdasarkan pengamatan diatas, dapat di simpulkan bahwa manusia lahir di lengkapi oleh suatu alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat. Lalu, karena sukar dibuktikan secara empiris, maka pandangan ini mengajuan satu hipotesis yang disebut hipotesis nurani. Mengenai hipotesis nurani ini perlu dibedakan adanya dua macam hipotesis nurani yaitu hipotesis nurani bahasa dan mekanisme. Dalam Hipotesis Nurani Bahasa pemerolehan sebuah bahasa diasumsikan  bahwa  sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia.

Sedangkan hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia di tentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman.

Chomsky dan Miller mengatakan adanya alat khusus yang dimiliki setiap kanak-kanak sejak lahir untuk dapat berbahasa. Alat itu namanya language acquisition device (LAD), yang berfungsi untuk memungkinkan untuk seorang kanak-kanak memperoleh bahasa ibunya. Cara kerja LAD ini dapat di jelaskan sebagai berikut : apabila sejumlah ucapan yang cukup memadai dari suatu bahasa diberikan kepada LAD seorang kanak-kanak sebagai masukan (input), maka LAD itu akan membentuk salah satu tata bahasa formal sebagai keluaran (uotput). Adanya hipotesis mengenai LAD ini semakin memperkuat pandangan para ahli di bidang pemerolehan bahasa, bahwa kanak-kanak sejak lahir telah diberi kemampuan untuk memperoleh bahasa ibunya. Eva Clark mengambil kesimpulan bahwa kanak-kanak tidak mungkin dapat menguasai sintaksis bahasanya kalau dia tidak di anugrahi suatu mekanisme nurani yang khusus untuk bahasa bagi tujuan pemerolehan bahasa.

Adapun perbedaan antara hipotesis nurani bahasa dan hipotesis nurani mekanis terletak pada fungsi fitur-fitur nurani. Hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya suatu benda nurani yang dibawa sejak lahir oleh anak-anak yang khusus untuk bahasa dan berbahasa. Hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa benda benda  nurani yang di bawa oleh anak sejak lahir berbentuk mekanisme yang umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa dan berbahasa hanyalah sebagian dari yang umum tersebut.

Teori Hipotesis Tabularasa

Hipotesis tabularasa pertama kali dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal, kemudian dianut dan disebarluaskan oleh Jhon Wathson seorang tokoh terkemuka aliran Behaviorisme dalam psikologi seara harfiah, tabularasa berarti kertas kosong.

Hipotesis ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahiran sama seperti kertas kosong yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. Dalam hubungannya dengan pemerolehan bahasa, menurut hipotesis tabularasa, semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang dialami dan diamati oleh manusia itu sendiri. Sejalan dengan hipotesis ini, Behaviorisme menganggap pengetahuan linguistik terdiri dari rangkaian hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran S-R (Stimulus-Respon). Cara pembelajaran S-R yang terkenal adalah mediasi dan pelaziman operan yang telah dimodifikasi menjadi teori-teori pembelajaran bahasa. Teori mediasi yang diperkenalkan oleh Jenin ini disebut juga teori rantaian proses (responce chaining).

Teori ini didasarkan pada prinsip mediasi atau penengah. Dalam hal ini faktor penengah atau mediasi yang dimainkan oleh otak memegang peranan penting dalam proses  pembelajaran rantaian respon tersebut. Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa perlau berbahasa seorang anak dibentuk oleh serentetan hadiah yang beragam. Pada tahap bereloteh (babling period) seorang anak berpotensi untuk mengucapkan semua bunyi yang ada pada semua bahasa. Namun, orang tua tersebut hanya memberikan bunyi-bunyi bahasa yang ada dalam bahasa ibunya saja. Dengan demikian yang dilazimkan anak untuk ditirukan adalah ucapan-ucapan orang tuanya. Jika tiruan ucapan itu benar atau mendekati ucapan yang sebenarnya, maa dia aan mendapat “hadih” dari ibunya dalam bentuk iuman, senyuman, pujian, dan sebagainya.[2]

Menurut Skinner berbicara merupakan suatu respon operan yang dilazimkan kepada sesuatu stimulus dari dalam atau dari luar yang sebenarnya tida jelas diketahui. Untu menjelaskan  hal ini Skinner memperkenalkan sekumpulan kategori respon bahasa yang hampir serupa dengan ucapan yaitu, mands, tact, echoics, textuals, dan intraverbal operant. Berikut penjelasannya:

a.      Mands

kata mands adalah akar dari kata command, demand, dan lain-lain. Mand ini muncul sebagai kalimat permohonan atau rayuan, hanya apabila penutur ingin mendapatkan sesuatu. Jadi, mand memerlukan satu interaksi khusus antara keadaan dulu yang serupa dan dialami, respons bahasa, perilaku orang yang mengukuhkan dan jenis pengukuhan.

b.      Tacts

Tacts adalah benda atau peristiwa konkret yang muncul sebagai akibat dari stimulus. Didalam tata bahasa tact dapat disamakan dengan menyebut nama sesuatu benda atau perisriwa.

c.       Echoics

Echoics adalah satu perilaku berbahasa yang dipengaruhi oleh respon orang lain sebagai stimulus dan kita meniru ucapan itu.

d.      Textual

Textual adalah perilaku berbahasa yang diatur oleh stimulus tertulis sedemikian rupa sehingga bentuk perilaku itu mempunyai korelasi dengan bahasa yang tertulis itu. Korelasi yang dimasud adalah hubungan sistematik antara sistem penulisan (ejaan) suatu bahasa dengan respon ucapan apabila membacanya secara langsung

e.       Intraverbal operant

Intraverbal operant adalah operan berbahasa yang diatur oleh perilaku barbahasa terdahulu yang dilakukan atau dialami oleh penutur. Umpamanya, kalau sebuah kata dituliskan sebagai stimulus, maka kata lain yang ada hubungannya dengan kata itu akan diucapkan sebagai respon. 

Teori Hipotesis Kesemestaan Kognitif dalam Pemerolehan Bahasa

Hipotesis kesemestaan kognitif diperkenalkan oleh piaget. Menurutnya bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif secara umum. Menurut teori yang yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan struktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini diperoleh anak-anak melalui interaksi dengan benda-benda atau orang-orang disekitarnya.

Urutan pemerolehan ini secara garis besar sebagai berikut: 

a. Antara 0 sampai 1,5 kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi terhadap alam sekitarnya. Pola-pola inilah yang diatur menjadi struktur-struktur akal(mental). Berdasarkan mental ini kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang di sebut dengan kekekalan benda. Maksudnya, kanak-kanak telah sadar bahwa meskipun benda-benda yang pernah diamatinya atau disentuhnya hilang dari pandanganya, namun tidak berarti benda-benda itu tidak lagi di dunia. Dia sekarang tau bahwa benda-benda itu dapat dicari dengan struktur aksi tertentu, misal melihatnya di tempat lain.

b. Setelah struktur aksi telah di nuranikan, maka kanak-kanak memasuki tahap representasi kecerdasan, yang terjadi antara usia 2 tahun sampai 7 tahun. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik benda-benda seperti permainan simbolik, peniruan, bayangan, mental, gambar-gambar dan lain-lain.

c. Setelah tahap representasi kecerdasan, dengan representasi simboliknya berakhir, maka bahasa kanak-kanak semakin berkembang dan dengan mendapat nilai-nilai sosialnya. Struktur-struktur linguistik mulai di bentuk berdasarkan bentuk-bentuk kognitif umum yang telah di bentuk ketika berusia kurang lebih dua tahun.

Menurut Sinclair-de Zwart ada tiga tahap pemerolehan bahasa anak-anak. Pertama, anak-anak memilih satu gabungan bunyi pendek dari bunyi-bunyi yang di dengarnya untuk menyampaikan satu pola aksi. Kedua, jika gabungan bunyi-bunyi pendek ini dipahami maka anak-anak itu akan memakai seri bunyi yang sama, tetapi dengan bentuk fonetik yang lebih dekat dengan fonetik orang dewasa, untuk menyampaikan pola-pola aksi yang sama, atau apabila pola aksi yang sama dilakukan oleh orang lain. Pola aksi ini pada mulanya selalu mempunyai hubungan dengan anak-anak itu, dan didalam pola aksi itu selalu terjalin unsur, yaitu agen, aksi, dan penderita. Ketiga, muncul fungsi-fungsi tata bahasa yang pertama, yaitu subject-predikan yang menghasilkan unsur subjek-verbal-objek atau agen+aksi+penderita. Hipotesis kesemestaan kognitif sama dengan hipotesis nurani mekanisme dalam linguistik. Piaget dan Mc Namara menyimpulkan bahwa anak-anak lebih dahulu mengembangkan proses-proses kognitif yang bukan linguistik. Setelah itu barulah mereka memperoleh lambang-lambang linguistik itu. Jadi, pemerolehan bahasa bergantung pada pemerolehan proses-proses kognitif itu.[3]

[1] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik, Rineka Cipta, Jakarta, 2009, hlm.167.
[2] Hayatun Nufus, Wahana Didaktika Vol. 12 No.3 September 2014, hlm. 47. Diakses pada tanggal 11 april 2018.
[3] Meilan Arsanti, Jurnal PBSI Vol.3 No.2 Tahun 2014, hlm. 29. Diakses pada tanggal 11 april 2018.

4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Belajar Bahasa Inggris dari Main Game dan Nonton Film

Sebagai bahasa international, tentu bahasa inggris menjadi mata pelajaran pokok di bangku…

Kumpulan Istilah dan Singkatan Gaul dan Keren di Facebook, Twitter, Instagram

Berkembangnya media sosial juga membuat semakin banyak istilah dan singkatan keren serta…

Perubahan Fonologi dan Morfologi Bahasa Indonesia

Perkembangan dunia membawa perubahan pada teknologi dan komunikasi. Perubahan tersebut ada bersifat…