Cerita Horor Rusin

Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin – Cerita Si Juni. Yang baru datang ke sini baca dulu part1.

Cerita Horor Twitter : Rusin – Catatan Si Juni Part1

Cerita Horor Twitter

Judul : Rusin – Catatan Si Juni

Penulis : @ItsQiana

CATATAN SI JUNI PART 2

Esok hari, karena Bapak menolak autopsi maka jasad ibu dikebumikan malam itu juga. Malam dimana aku tidak sadarkan diri dan membuat heboh seisi kampung.

Mereka mulai bergunjing, menatapku iba namun penuh ketakutan. Bapak tak mau berlama lama berada disini, ia takut kondisiku akan bertambah buruk.

Kami segera kembali ke rumah Bapak dan perlahan aku mulai bisa berdamai dengan semua itu.

Memang kita tak dapat melupakan kenangan kenangan mengerikan yang telah terjadi, dan butuh waktu yang sangat lama untukku bisa menerima semuanya.

Akupun mulai terbiasa dengan sikap ibu tiriku, hanya Bapak yang kupunya, mau tak mau aku harus berlapang hati dengan segala siksaan yang akan ku terima kedepannya.

………..

………..

Kini aku telah berusia 20 tahun, usia yang cukup untukku mulai hidup sendiri.

*Plakkk*

Tamparan keras mendarat dipipiku “Rasah kemayu nduk, raimu ki ra sepiro” (Gausah sok kecantikan, mukamu tu ga seberapa) ujar seorang seniorku dikampus.

Aku hanya diam, mencoba menenangkan amarahku, bukannya aku tak bisa melawan, aku bahkan sanggup membalasnya namun aku sedang malas meladeni orang orang seperti mereka.

Tangannya menjambak rambut panjangku, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dariku.

“Diapakne cah iki cuk penake?” (Diapain anak ini enaknya?) ujarnya kepada beberapa temannya yang berdiri mengelilingi kami, melihatku disiksa oleh seorang temannya.

Terlihat satu orang datang membawa air seember penuh dan langsung menyiramkannya ke tubuhku degan tiba tiba. Aku masih saja diam, bagiku ini semua belum ada apa apanya dengan sebelas tahun yang telah kulalui bersama ibu tiriku.

“Jek kurang?”

(Masih kurang?) ucap satunya Mungkin mereka sekitar tujuh orang, sedangkan aku sendirian.

*Krusekkk*

Suara seperti kantung plastik diremas membuat kami semua terkejut Tandanya ada seseorang yang pasti sedang bersembunyi disekitar sini, mereka mulai waswas.

Mereka semua pasti takut bila ada yang melihat atau bahkan melaporkan kelakuan busuk mereka ini.

“Goleki! Cepet!”

(Cari! Cepat!) perintah Okta Iya Okta adalah orang yang paling membenciku, akupun tak pernah tahu penyebabnya, tapi nampaknya ia tak suka melihatku disukai banyak orang.

Mereka semua berpencar mencari orang yang diam diam mengintip kegiatan mereka sedari tadi itu. Hingga akhirnya…

“Ketemu” teriak salah satu dari mereka sambil menyeret tangan seseorang yang kelihatannya seangkatan denganku.

“Babat ae rambute kesuwen” (Botakin aja rambutnya) usul seorang teman Okta.

“Koe roh iki opo nduk? Pengen ngrasakno gak?” (Kamu tau ini apa? Pengen ngerasain gak?) ucap Okta sambil menyodorkan gunting ke pipi anak itu.

Dia hanya menangis ketakutan, ia mencoba berontak namun apa daya seluruh badannya dipegangi oleh teman teman Okta.

“Lapo koe melu melu urusanku? Tak kei kenang kenangan yo. Nek koe nganti wanten lapor dosen yo bakal ngrasakno hadiah sing lueh kepenak ko aku”

(Ngapain kamu ikut ikutan urusanku? Tak kasih kenang kenangan ya. Kalo kamu sampe berani beraninya lapor ke dosen ya bakalan ngerasain hadiah yang lebih enak lagi dariku) ancam Okta tanpa perasaan manusiawi sama sekali, ia tersenyum sinis sambil menarik jilbab anak itu sampai terlepas.

Kelihatannya mereka lupa bahwa aku masih disini dan lebih fokus ke anak itu.  Hampir saja ia mengguntingnya, aku yang sudah merasa muak dan tidak tega segera meraih apapun yang ada didekatku.

“Bruakkk” Ember tepat mengenai kepala Okta. Ya, aku melemparkannya dengan sangat kencang hingga dia jatuh ke tanah.

Hidungnya berdarah, teman temannya pun panik. Kondisi itu kumanfaatkan untuk menyelamatkan Septi. Kutarik tangannya dari genggaman anak anak yang terfokus pada Okta, kamipun segera berlari menjauh dari para wanita gila itu.

………

Di kamar mandi aku menunggu Septi yang masih saja menangis, dia ketakutan dan tak berani keluar karena jilbab yang dikenakannya tadi dilepas paksa oleh Okta.

Ya, namanya Septi. Dia seumuran denganku, bukan seorang yang mencolok apalagi menarik perhatian. Makanya tidak banyak yang mengenalnya disini.

“Wes menengo, mari iki ayo ndang bali. Anggoen jaketku” (Udah diem, abis ini ayo balik. Pake jaketku) ujarku padanya, Kami pun pulang naik ojek menuju ke rumah Bapak. 

“Loh Jun.. ” ucapnya ternganga. “Ssst meneng wae, age” (Ssst diem aja, ayo) jawabku singkat.

Kami segera masuk ke kamarku, untunglah hari ini Mamah sedang tidak ada dirumah jadi aku tak perlu malu pada kawanku. Tak perlu khawatir akan ada seseorang yang meneriakiku anak perempuan jalang.

“Awakmu anake wong sugeh yo? Kok gaonok sing ngerti?” (Kamu anak orang kaya ya? Kok gaada yang tau?) tanyanya.

“Ora bandaku” (Bukan hartaku) jawabku singkat lagi.

Kami ada disini sedari sore hingga jam 9 malam, namun aneh tak ada seorangpun yang pulang kerumah.

Meski memang Mbak Novi sudah berkeluarga, namun biasanya ia akan pulang kemari dua kali seminggu. Begitu pula dengan Bapak, ia kemana? Biasanya ia hanya akan ke kantor sesekali saja karena fisiknya sudah tak memungkinkan lagi.

“Jun, Bapakmu pamit” celetuk Septi tiba tiba saja Aku memalingkan wajah kearahnya, alisku berkerut heran dengan maksud ucapan Septi barusan.

“Nok jendelo njobo, Bapakmu pamit” (Di jendela luar, Bapakmu pamit) jelasnya kembali

Aku langsung menuju ke jendela seperti yang dimaksud oleh Septi, namun aneh tak ada siapapun disini.

*Kring kring kring* Bunyi telefon rumah dari ruang tamu terdengar hingga kamarku. Aku bergegas keluar dan mengangkatnya, terdengar suara wanita sedang berusaha untuk bicara.

“Nduk, Jun…” suaranya tersenggal senggal karena menahan tangis.

“Mbak Novi? Mbak kenapa mbak” tanyaku mulai panik mendengar kakak perempuanku itu menangis.

“Bapak mpun kapundut dek, sak niki awakmu mrene ya dijemput” (Bapak udah meninggal dek, sekarang kamu kesini ya dijemput) ucap Mbak Novi yang terdengar jelas sedang diliputi kesedihan.

Runtuh, kekuatanku kali ini benar benar runtuh. Aku tak punya siapapun lagi di dunia ini. Akhirnya kali itu aku tahu bahwa Septi memiliki kelebihan istimewa, dan dari sinilah kami mulai berteman dekat.

Aku segera bersiap dan mengajak Septi yang kini membisu dan hanya bisa menangis bersamaku. Kami berdua dijemput oleh sopir pribadi kakak perempuanku itu menuju rumah sakit tempat Bapak menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan ini, aku tahu pasti suatu saat Bapak akan meninggalkanku. Namun, masih tak kusangka akan secepat ini, ia bahkan belum melihatku menjadi sarjana nanti.

……….

Tujuh hari sepeninggal Bapak, Mamah mengusirku dari rumah. Dan ya, akupun telah memperkirakan ini semua jadi aku sudah sepenuhnya pasrah.

Mbak Novi mengajakku untuk tinggal bersamanya, namun kutolak karena aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi. Akupun bahkan tak meminta hak atas warisan Bapak sedikitpun.

Untunglah selama ini Bapak telah meninggalkan tabungan yang cukup untukku hidup sampai beberapa tahun kedepan, aku juga masih punya rumah milik Ibu dulu.

……….

*Jblakkk* Suara pintu mobil kututup Aku berjalan memasuki sebuah rumah yang kini kondisinya telah berubah sepenuhnya. Karena memang aku tlah lama tak pernah kembali ke daerah sini.

“Assalamualaikum Paklik.. Bulik.. Mei.. ” panggilku yang kini telah berada di depan pintu.

“Waalaikumsalam, sinten? (siapa?)” sahut seseorang dari dalam menjawab salamku. Ibu Mei berjalan kearahku, nampaknya ia lupa dengan wajahku.

“Sinten nggih? Rencange Mei mbak?” (Siapa ya? Temennya Mei mbak?) tanyanya kembali.

Aku hanya tersenyum dan segera meraih tubuh Ibu Mei, aku memeluknya dengan sangat bahagia Ia terkejut karena aku tiba tiba memeluknya.

“Niki Juni Bulik..” (Ini Juni Bulik..) ucapku yang masih memeluknya erat Ia nampak terdiam beberapa saat lalu segera membalas pelukanku.

“Ya Allah Juni… ” “Bulik pangkling nduk” ujarnya yang kini menangis terharu Aku melepas peluknya dan meraih serta mencium tangannya, tak terasa akupun ikut menangis rindu dan tersenyum lega.

“Meeeei! Mrene nduk” (Mei sini nak) teriaknya kencang sekali memanggil mei yang kelihatannya ada di belakang. Mei datang dengan wajah kusut, ketika matanya menatapku ia mematung dan membungkam mulutnya terkejut.

Aku segera masuk dan memberi salam pada sahabatku itu.

……….

Setelah beberapa lama melepas rindu, akupun mulai menceritakan semuanya. Tak lupa dengan niatku untuk menempati kembali rumah Ibuk.

“Bapak mpun seda Bulik, Mamah nggih piyambake mboten purun tinggal kalih Juni. Dados Juni mriki mawon, kepengen manggeni daleme Ibuk”

(Bapak sudah meninggal, Mamah juga gamau tinggal sama Juni. Jadi Juni kesini aja, kepengen nempatin rumahnya Ibuk) ceritaku pada mereka berdua Pastinya mereka terkejut, alasan pertama karena mendengar kematian Bapakku. Dan yang kedua pastilah karena niatku untuk menempati rumah Ibuk kembali.

“Innalillahi, yang sabar yo nduk” Ibu Mei berucap lirih.

“Tapi Jun, awakmu tenan ta arep manggon omah kono maneh? Ojok yo mending tinggal kene wae karo aku, karo bapak ibuk”

(Tapi Jun, kamu yakin mau tinggal dirumah itu lagi? Jangan ya mending tinggal disini aja sama aku sama bapak ibuk) bujuk Mei sembari menggenggam erat tanganku.

Mereka mungkin khawatir padaku, tapi itulah satu satunya sisa kenangan masa lalu yang kupunya. Aku tersenyum padanya, aku berusaha meyakinkan dia bahwa aku akan baik baik saja.

……….

Pagi disini cerah, mataharinya lumayan terik dan cukup efektif untuk menghangatkan badan.

Semalam, aku bermalam dirumah orangtua Mei. Begitu mendengar kabar bahwa aku kembali, Febri dan keluarganya pun langsung menemuiku tuk melepas rindu. Ya, keluarga Mei dan Febri layaknya keluarga kedua bagiku.

Kini lingkungan ini terasa sedikit asing, banyak perubahan yang kulewatkan selama beberapa tahun kebelakang.

Aku berjalan jalan pagi sendirian di gang ini, banyak warga baru yang tak saling mengenal denganku tersenyum menyapaku.

Begitu pula dengan mereka yang telah mengenalku sejak kecil dulu. Suasana hangat kurasakan saat mereka menyambutku dengan haru.

“Pak, Bu, nuwun sewu kula badhe nyuwun izin tinggal teng mriki malih, piyambakan” (Pak Bu permisi saya mau minta izin untuk tinggal disini lagi, sendirian).

ucapku kepada dua orang didepanku itu Mereka adalah Pak RT beserta istrinya, ya aku meminta izin sesuai prosedur untuk menempati kembali rumah Ibuk.

“Nak Juni yakin nduk?”

Hanya sepenggal kalimat itulah yang keluar dari mulut Pak RT, ketika aku mengangguk iapun tak mau mengganggu gugat pilihanku ini.

Aku bergegas keluar kamar dan memilih meringkuk di bawah kursi ruang tamu 

Jam menunjukan 19  00 , aku sempat berfikir untuk keluar dari rumah dan menginap di rumah Mei   Tapi di sisi lain aku tidak mau merepotkan, akhirnya kuputuskan bertahan walaupun rasa takut menyelimutiku 

Malam ini kuputuskan untuk tidur di ruang tamu   Merebahkan badan dikursi panjang tanpa bantal

Aku yang merasakan lelah setelah seharian membersihkan rumah akhirnya terlelap

Namun tidurku tidak berlangsung lama, lagi-lagi aku mendengar sesuatu yang kembali membuatku terkejut

*Tok  Tok  *

Kali ini bunyi ketukan masih sama dua kali seperti tadi, dan bersumber dari pintu depan rumah 

Ada yang bilang bahwa dua kali ketukan adalah pertanda bahwa yang mengetuk pintumu bukanlah manusia

Aku yang masih merasakan ketakutan enggan membuka pintu,

dan bertahan di kursi panjang yang ku tiduri, hanya merubah posisiku sedikit, sekarang aku hanya bisa tertunduk dan benar-benar merasakan ketakutan 

“Jun  ?” Panggilan tersebut terdengar lembut, seperti perempuan yang masih berumur 40 tahunan, namun aku belum membukakan pintu

karena aku pikir suara tersebut bukan tamu yang datang ke rumahku,

“Jun?” Lagi-lagi ada suara seperti memanggilku, namun arah suara tersebut berada di pintu belakang,

Badanku seketika merinding,seperti ada tiupan angin ke badanku yang membuatku merasakan dingin di seluruh tubuh

Hanya berdoa yang kubisa, sambil memejamkan mata berharap semoga teror yang terjadi terhadapku cepat berlalu

“Jun ini Ibu Rt“

Mendengar panggilan tersebut dengan nafas yang memburu aku bergegas lari menuju pintu belakang   Berharap seseorang dapat membantu membuatku sedikit lega

*Klek Klek*

Bunyi kunci pintu belakang

Perlahan aku buka, dan seketika ku mematung, kakiku tak bisa bergerak, mulut seperti terkunci rapat

“Emm Emmm”

Bukannya Bu Rt yang berada di depanku saat ini, namun se sosok perempuan berambut panjang, dengan lidah menjulur ke bawah.

“Ooh mosok karo cecek wedi se, oiyo Jun iki maemo awakmu wingi gurung sempet blonjo dadi tak masakno”

( Ooh masa sama cicak takut si Jun, oiya aku kesini mau nganterin makan nih buat kamu,kan kamu belum sempet belanja jadi aku masakin buat kamu)

“Wah suwun Me, tak gawane nok kampus wae ya pangan kono”

(Wah makasih Mei, aku bawa aja ke kampus ya buat dimakan disana) jawabku sambil tersenyum

“Iyo Jun, tapi kui rai mbe gulumu gene ko abang abang grawukan ngono”

(Oiya Jun, tapi itu muka sama leher kamu kenapa kok kaya ada

bekas cakaran merah gitu)

“Emm mambengi akeh nyamuk Me. Yowes tak mangkat yo”

(Emmm semalem banyak nyamuk. Ya udaah aku berangkat ya) tutupku tergesa

………..

Sesampainya dikampus aku langsung menuju ke kantin, sembari menyantap makanan yg diberikan Mei aku menunggu kedatangan Septi

Kiranya lima belas menit menunggu terdengar panggilan lirih dari arah belakangku

“Juniiii” suara lembut tersebut lagi-lagi membuatku merinding, hembusan angin membuat hawa dingin mulai masuk ke dalam tubuhku, berusaha menoleh perlahan karena kupikir itu Septi yang sudah datang

Seketika aku memundurkan badanku sampai mentok ke meja makan, sesosok mahluk dengan rambut panjang menutup muka dan bau busuk berada di hadapanku. Badan tangan dan kakiku tak bisa ku gerakkan sedikit pun, mulutku membisu serta tiba-tiba badanku melemas tiada daya.

*Bruuggg*

Badanku pun terjatuh ke bawah meja

Ya aku datang ke kampus sangat pagi dan memang aku yang paling awal, di kantin pun belum ada warung yang dibuka, jadi aku orang pertama yang sampai kampus dan langsung menuju kantin

“Nak bangun nak”.. panggil salah satu penjaga kantin

sambil menepuk badanku.

Aku yang baru saja tak sadarkan diri merasa terkejut karena bangun dengan kondisi di bawah kursi tempat ku makan tadi

“Kok kamu tidur dibawah” ucap Pak Adi penjaga kantin di kampusku

“Maaf pak tadi saya pingsan liat sosok Perempuan berbaju putih”

ucapku dengan nada lirih

Pak Adi terheran mendengar jawabanku seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku alami, pandangan Pak Adi pun tiba-tiba berubah menatapku dengan sinis dengan bibir seperti mengucap doa dan mata melotot kepadaku

“Pak kenapa lihatin Juninya kaya gini?”.

Terdengar tiga siraman air seperti sedang membilas badan

“Sep wakmu adus ta, kok iso karo petengan ngene”

(Sep kamu kok bisa si mandi gelap-gelapan begini) aku yang yakin itu Septi sedang mandi melontarkan sebuah pertanyaan. Bukannya jawaban yang ku dapatkan melainkan hanya

tawaan lirih dari dalam kamar mandi.

“Hihihi” terdengar jawaban Septi dari kamar mandi

Aku yang juga ingin buang air kecil pun menunggu Septi dari luar kamar mandi, tak berselang lama kamar mandi pun terbuka dengan sendirinya,

*Krieettt…*

Bunyi pintu kamar mandi yang mulai terbuka perlahan. Dan apa yang kudapati bukanlah Septi namun sesosok perempuan tengah berendam di bak mandi dengan muka yang sangat menyeramkan dan mata melotot, aku yang terkaget berlari menuju ke kamar karena yakin kalau Septi berada dikamar

“Sep tangi Sep tangio…!”

(Sep bangun sep bangun.!!) Teriakku di depan kamar. karena tak kunjung mendapat jawaban aku yang ketakutan pun tanpa pikir panjang memasuki kamar dan membuka selimut yang berada di kasur. Ku pikir seorang dibalik selimut itu Septi.

Perlahan ku raba-raba karena keadaan gelap saat itu dikamar. Namun saat kubuka dan meraba yang kuraba seperti sebuah kaki bengkok, ternyata yang kulihat sesosok anak kecil cacat dengan kaki bengkok yang dulu pernah kulihat saat masih kecil. Dengan mata hitam dan mulut lebar

menganga ia menatapku kosong.

Badanku merinding, tanpa seucap kata aku lari keluar kamar, yang kupikirkan hanyalah bagaimana caraku keluar dari dalam rumah, berlari menuju pintu depan

*Cklekkk Cklekk*

Gagang pintu berusaha ku buka namun tak berhasil, seperti ada yang mengunci

dari luar rumah.

“Sialan, Septi ngendi ki nyapo malah lungo aku dikurung ngene”

(Sialan.. Kemana Septi, kenapa pergi dan mengurungku gini) umpatku dengan sedikit kesal kepada Septi yang entah berada dimana

*Dug.dug.dug*

Bunyi langkah kaki terdengar dari luar rumah.

*Krek krek*

Bunyi kunci pintu yang dibuka dari luar rumah membuat dadaku sedikit merasa lega. Tak berselang lama pintu pun terbuka. Dengan rasa kesal aku bertanya kepada Septi yang baru saja masuk.

“Kondi koe ngopo lungo ga ngomong, lawang barang nyapo dikunci”

“Hihihihi” Septi hanya tertawa mendengar pertanyaanku

Aku yang juga ikut merasakan lapar berusaha mendekati dan ingin meminta mie instant buatannya kalau sudah matang

“Nyuwun a nek wes mateng”

(Aku minta ya kalau sudah matang)

sambil berjalan aku berusaha mendekatinya

namun saat mulai melihat wajahnya, ternyata bukan Septi. Yang kulihat wajah tanpa mata dan hidung,namun hanya ada mulut yang sudah membusuk dan di gerumuti belatung

Spontan aku berlari menjauh, kuayunkan kakiku langsung menuju ke kamar, dengan nafas memburu aku langsung naik

ke atas rajang, berusaha membangunkan Septi yang sedang tertidur.

“Sep tangi seppp!!! “

(Sep bangun sep!!!) teriakku untuk membangunkan Septi yang sudah tertidur pulas.

“Hehhh opo si, bukane tidur ih”

“Aku roh demit Sep!”

(Aku liat hantu Sep!) semua yang dari awal berusaha

kututupi dari Septi, kali ini aku berusaha menceritakan apa yang barusan ku lihat.

“Biasa wae talah ncene akeh demit nde omahmu, aku ngantuk ki lho, turu ah”

(Biasa aja kali emang banyak hantu dirumah kamu, aku ngantuk nih, udah tidur ah) jawaban Septi yang

enggan membuka matanya waktu itu.

Namun aku segera menepuk badannya dengan keras agar mau membuka mata dan mau mendengarkan ceritaku, akhirnya Septi pun terbangun dan duduk di kasur.

Aku langsung menceritakan kepadanya saat itu juga.

“Mau aku roh onok sing metu seko kamar iki mirip awakmu mlaku mburi, tak kiro wakmu ning mari tak cek dadakman demit”

(Tadi aku lihat ada yang keluar dari kamar ini mirip kamu kulihat jalan ke belakang rumah, aku pikir itu kamu tapi waktu aku cek ternyata hantu)

dengan memegang pundak Septi aku berusaha meyakinkan kalau yang kulihat memang hantu

“Haha iyo nda” lagi-lagi Septi menganggap remeh ucapanku

Namun kali ini aku berusaha mengajaknya kedapur agar dia juga ikut melihat sesosok hantu tersebut

Dengan mata kantuk Septi mengiyakan

“Iya udah ayo kita lihat” kami pun berjalan pelan dengan Septi didepan aku yang masih merasakan ketakutan mengikutinya dibelakang sambil memegangi bajunya,

*Hooookk hokkk hokkkk*

Terdengar bunyi seperti orang mengorok saat tidur, sumber suara tersebut seperti dari arah dapur

yang akan kami datangi.

“Suoro opo kui?” gumam Septi

Perlahan kami berdua mengintip bagian dapur dengan perlahan, aku pun terkejut ternyata didapur tidak ada apapa, dan tidak ada hal aneh yang terjadi,

“Tuhh kan gak nampak setannya! !.” Ucap Septi

Aku pun hanya terpaku kebingungan, padahal tadi didapur aku melihat hantu gumamku dalam hati.

“Udah ayo tidur lagi ngantuk nih” Septi yang masih mengantuk mengajak untuk kembali ke kamar, aku yang masih merasa ketakutan hanya mengikutinya dari belakang

Sesampainya dikamar…

*Pyakk Pyak*

 Septi yang berada didepanku saat memasuki kamar terdengar seolah menginjak air

“Loh kok ono banyu ndek gladak Jun?”

(Loh kok ada air di lantai kamar Jun)

“Wah kok aneh yo, jal nyalakke dilahe ayok resiki”

(Wah kok aneh ya,  yaudah cepet nyalain lampunya kita bersihin dulu) ucapku memerintah Septi untuk menyalakan saklar di dinding dekat ranjang.

Septi pun berjalan perlahan menuju saklar yang kumaksud, namun sesudah lampu dinyalakan kami berdua bingung karena dilantai tidak ada

cairan yang terinjak oleh Septi

“Gaono banyu opopo Sep”

(Gada cairan apa apa Sep) kataku waktu melihat lantai dihadapanku yang kering

Setelah kejadian itu aku dan septi memutuskan untuk tidur kembali, waktu menunujukkan pukul 23:15

Septi yang dari pagi belum tidur sudah terlelap disampingku.

“Wah sial kok susah tidur” Umpatku yang merasakan susah tidur, karena terlalu lama tidur siang sampai waktu maghrib tadi

Aku hanya bengong sambil memandang langit-langit rumah, mengamati setiap sudut kamar,

tiba-tiba mataku tertuju ke atas lemari pakaian yang ada di dekat jendela kamarku. Namun saat ku amati ternyata hanyalah kain dan kardus.

Mataku mulai mengantuk dan perlahan mengejamkan mata,namun tak berselang lama Septi terbangun

“Te ngendi Sep”

(Mau kemana Sep)

ucapku dengan mata setengah mengantuk

“Pipis bentar” Septi pun berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi

~~

Saat sedang jongkok dengan mata mengantuk tiba-tiba seperti ada yang menyangkut di wajahnya, perlahan tangan Septi meraba bagian wajahnya, sehelai rambut yang

sangat panjang menempel di bagian wajahnya

Kepala Septi perlahan mendongak, wajahnya mengarah ke bagian atap kamar mandi. Terlihat sebuah kepala putus dengan lidah menjulur sedang berayun ayun disana, rambutnya benar benar panjang dan tanpa badan, seperti digantung.

Septi yang terkejut pun sontak berteriak sekencang mungkin dan berusaha lari dari kamar mandi,

*Hhhhaaaaa.!!!!***.

Teriakan Septi mengagetkanku membangunkanku yang berada di kamar, aku terbangun dan berusaha menghampiri Septi, namun saat kubuka pintu kamar

*Hihihihi Hahhhh*

Kerumunan anak kecil dengan muka yang sangat seram seperti ingin mengejarku dan mengajakku bermain, aku yg ingin menghampiri Septi lantas mengurungkan niatku, menutup kembali pintu dan melompat ke ranjang, berusaha menutup kepalaku dengan selimut.

“Kenapa Septi ngga datang-datang dari belakang sih”  gumamku dalam hati dengan badan yang kubenamkan dalam selimut,

“Sep koe ngendi se ko sui men pipise”

(Sep kamu dimana lama banget sih pipisnya) namun tidak ada jawaban dari Septi waktu itu,

tidak berselang lama terdengar suara cekikikan dari bagian belakang rumahku

“Hihihihi hahahahaha” suara tersebut terdengar mirip seperti suara Septi, aku sangat paham dengan suara tersebut. Tapi kenapa dia tertawa sendiri gumamku dalam hati.

15 menit berlalu Septi tak kunjung kembali ke kamar, aku berniat menyusulnya ke kamar mandi. Dengan rasa takut kucoba kembali membuka pintu kamar

“Syukur gaono popo maneh”

(Syukurlah sudah tidak ada apapa)

Kulangkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ke kamar mandi,

namun Septi tidak ada. Pintu belakang rumah nampak terbuka, karena makin penasaran akan keberadaan Septi, akhirnya ku intip perlahan melalui celah pintu itu.

Berdiri seseorang yang nampaknya adalah Septi menghadap sebuah pohon asam jawa, disana ia seperti tengah membicarakan

sesuatu dengan seseorang.

“Sep melbuo nomah sep nyapo nok jobo bengi bengi ngene”

 ( Sep masuk kerumah ngapain di luar malam-malam begini) panggilku saat itu

Sepertinya Septi tidak mendengarkanku, dengan ragu aku mencoba mendekatinya,

*Hihihihi* saat aku mendekat Septi

hanya tertawa menghadap pohon

“Jun ojok nyedakkk!!!”

(Jun jangan mendekat) Aku mendengar panggilan itu namun badanku seperti tidak bisa digerakan untuk menoleh ke orang yang memanggilku. Badanku seperti ditarik salah satu mahkluk yang menyamar sebagai Septi tersebut.

*Bughhh* pukulan keras dibagian punggungku membuatku hilang kesadaran malam itu

Bersambung Ke >>> Cerita Horor Rusin – Catatan Si Juni part 3

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part4 – Tabuh Waturingin

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 4 dari serial cerita horor…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit

CERITA HOROR TWITTER FULL Desa Windualit , Sebuah desa terpencil yang jauh…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 – Pagelaran Tengah Wengi

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 7 dari serial cerita horor…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part5 – Desa Terkutuk

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 5 dari serial cerita horor…