cerita horor twitter gending alas mayit


Cerita Horor Twitter –
Ini adalah part 7 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part 6, baca dulu ya part 6-nya >>>

Gending Alas Mayit Part 6

Gending Alas Mayit Part 5

Gending Alas Mayit Part 4

Gending Alas Mayit Part 3

Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part 2

Gending Alas Mayit Part 1

Cerita Horor Twitter

Judul : Gending Alas Mayit – Oagelaran Tengah Wengi

Penulis : @Diosetta

Suara alunan gamelan yang mendayu-dayu terdengar dengan sangat indah , tetesan air yang jatuh ke sendang membuat suara itu menjadi terlalu nyaman untuk didengar. Namun sayangnya suara ini berasal dari demit-demit di alas mayit.

Indahnya suara gamelan itu memancing seluruh penghuni alas mayit untuk berkumpul di tempat ini, mulai dari pocong, makhluk raksasa bertubuh besar, hingga mayat-mayat dengan tubuh yang tak berbentuk menyaksikan kami dari seluruh penjuru hutan, seolah menyaksikan suatu pertunjukan.

Aku dan Cahyo sudah bersiap untuk menyerang kedua manusia penyebab semua kutukan ini , Pak Kades dan Aswangga.

Namun.. serangan kami terhenti oleh sebuah kekuatan yang berwarna hitam pekat , dan itu muncul dari Aswangga yang menghadang kami.

 “ Hei Aswangga, Untuk apa kamu menjual dirimu pada setan-setan laknat itu”  Tanyaku yang masih berharap Aswangga masih bisa diselamatkan.

“ Untuk apa?  Kekayaan , kekuatan, dan hidup abadi.. tentu saja untuk itu semua” Ucapnya sambil tertawa meledeku.

“Saat ini tidak ada satupun dari kalian yang bisa mengalahkanku…” Lanjutnya.

Aku heran, mengapa Aswangga menjadi percaya diri seperti itu.

“Danan.. lihat! bukanya itu anak buah Aswangga” Ucap Cahyo sambil menunjuk pada setumpukan mayat yang dipersembahkan di sebuah candi.

 “Edan kowe… anak buahmu sendiri kamu jadiin tumbal?” Cahyo merasa emosi dengan perbuatan Aswangga.

“Itu salah kalian! Kalau kalian tidak mengacau.. aku tidak perlu menumbalkan mereka untuk mendapatkan kekuatan ini” Aswangga memamerkan dirinya yang diselimuti kekuatan hitam.

 “Hadapi aku.. akan kuhabisi kalian satu persatu.. “

Suara gamelan mengiringi mulainya serangan Aswangga kepada kami .

Sebuah pukulan mengarah  kepada Cahyo dan membuatnya terpental .

Aku mencabut keris milikku dan menusukan pada Aswangga, namun tak sedikitpun ujung keris itu masuk kedalam tubuhnya yang malah dibalas sebuah tendangan yang melemparkanku tak jauh dari tempat Cahyo tersungkur.

“Kamu mengorbankan nyawa anak buahmu Cuma untuk kekuatan seperti ini?”  tantang Cahyo sambil membersikan darah yang menetes dari mulutnya.

 “Udah Cahyo.. kamu istirahat dulu aja, Aswangga biar aku yang hadapi” Ucapku pada Cahyo.

 “Nggak Danan, aku butuh pemanasan…” Cahyo merapalkan sebuah mantra , merubah kedua tanganya menjadi lengan kera raksasa dan segera menerjang Aswangga.

“Sombong sekali kalian! “ Pukulan Aswangga yang diselimuti kekuatan hitam beradu dengan lengan kera milik Cahyo,

namun kali ini Aswangga yang terpental.

Sekali lagi Aswangga mencoba menyerang Cahyo namun dibuatnya terpental lagi.

Untuk adu ilmu fisik Cahyo memang sangat bisa diandalkan. Hampir semua serangan Aswangga dibuat terpental Cahyo.

 “Brengsek , Tidak mungkin kekuatanku kalah.. “ ucapnya yang disusul dengan pukulan berikutnya dari Cahyo.

“ Menyerah saja! Kekuatanmu itu tak mungkin bisa untuk mengalahkan kami” Ucap Cahyo memperingkatkan Aswangga.

“ Ga usah sombong kalian… Sudah berapa tumbal yang kalian berikan untuk kekuatan itu? Aku akan memberi lebih” Ucap Aswangga sambil menoleh kepada Pak Kades yang melihatnya dari belakang.

Wajah Cahyo terlihat emosi, sekali lagi pukulan diarahkan pada Aswangga dan membuatnya tersungkur di tanah.

“ Tumbal? Seenaknya kamu bicara! mbok pikir aku mau menggunakan cara biadab itu” Ucap Cahyo sambil menghampiri Aswangga dan mulai memukulinya lagi.

 “Kamu tidak tahu berapa ribu hari puasa yang dilakukan oleh Danan…

Kamu tidak tahu berapa ayat suci yang dihafalkan dan dilantunkan  Pak Sardi…

Kamu tidak tahu berapa banyak yang sudah ditolong oleh mereka hingga Yang  mahakuasa menitipkan kekuatan ini pada kami untuk menolong orang yang lebih banyak lagi”

Cahyo berusaha menyadarkan Aswangga. Namun sebelum mendaratkan pukulannya lagi,

Pak Kades melompat dan bersiap menyerang Cahyo yang membuatnya memilih mundur.

“ Cukup Aswangga.. kamu belum bisa mengalahkan mereka”Ucap Pak Kades.

“Terus kita harus bagaimana?” Tanyanya dengan suara yang lemah karena efek dari serangan Cahyo yang bertubi-tubi.

 “ Kita selesaikan perjanjian kita, kamu sudah mendapat kekayaan dan kekuatan, sekarang akan kuberikan kau kehidupan abadi” Ucap Pak Kades yang menghampiri Aswangga.

Sebuah pasak kayu dikeluarkan oleh Pak Kades, ujungnya diukir dengan tajam dan diarahkan kepada Aswangga.

“ Pak Kades.. untuk apa pasak itu?” Tanya Aswangga yang mulai merasa takut.

“ Tubuh kakek-kakek ini sudah sangat lemah , aku butuh tubuh yang lebih muda untuk bisa mendampingi dia dan menghabisi cecunguk itu..” Ucap Pak Kades.

“ Maksud Pak Kades apa? Bukanya Pak Kades berjanji akan memberikan hidup abadi?!” Tanyanya dengan putus asa.

“ Tubuhmu akan hidup abadi bersama rohku di dalamnya” Ucap Pak Kades yang segera menusukkan pasak ke jantung Aswangga yang tak bisa melawan.

Aswangga meronta kesakitan , ia merayap di tanah dan menggapaikan tanganya kepada kami.

“To… long “ suara rintih keluar dari mulutnya yang disusul dengan darah hitam yang bermuncratan.

Suara gong terdengar dipukul berkali kali seolah menandakan mulainya peperangan.

Setan wanita berbaju kebaya melayang menghampiri Pak Kades dan menarik roh keluar dari tubuh kakek tua itu.

Sesosok makhluk berwujud manusia dengan pakaian kerajaan keluar dari tubuh Pak Kades dan segera merasuki tubuh Aswangga yang masih tertancap pasak di jantungnya.

Suara gamelan berbunya semakin cepat, di tengah-tengah sendang terlihat roh Laksmi yang mulai menari .

“ Mas Danan… suara ini… “ Ucap Pak Sardi.

“Benar pak, ini gending alas mayit… “ ucapku sambil mengeluarkan tabuh waturingin.

Sebenarnya , aku penasaran dengan gong besar di tengah sendang. Suara gong yang terdengar oleh kami bukan berasal dari gong itu. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa gong itu berdiri diatas sebuah batu yang menyerupai akar pohon.

 “ Cahyo… apa batu yang dibawah gong itu yang dimaksud mbah rusman?” aku berbisik pada Cahyo.

Cahyo memperhatikan apa yang aku maksud.

“oo.. Pantes aja ga keliatan, air hitam itu menutupi keberadaan waturingin itu” ucap Cahyo.

Mengerti dengan yang kumaksud , kami berdua segera berlari menerjang kearah sendang banyu ireng. Namun sebuah serangan menghentikan kami berdua.

Itu Aswangga lagi…

Kali ini berbeda , pasak di jantungnya sudah menghilang namun wajahnya berubah menjadi mengerikan dengan kulit wajah yang terlihat melepuh . Demit wanita itu memakaikan pusaka yang dikalungkan di dadanya dan memberikan sebuah tombak untuk Aswangga.

“ Tidak mungkin…. Aswangga… “ Pak Sardi tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Aswangga tertawa dengan suara yang menyeramkan “Aswangga..? Bukan… Aku Patih Andaka yang akan menghabisi kalian semua”

Menyambut kebangkitanya , makhluk hitam besar berwujud perempuan dengan  cakar yang mengerikan menghampiri dan bersujud di depanya , disusul dengan setan-setan yang dari tadi hanya melihat pertarungan kami.

·

Pemandangan yang begitu mengerikan , kali ini Makhluk yang menghuni tubuh Aswangga memimpin ratusan demit bersama dengan setan penari itu di sampingnya.

“Gila Danan… kita harus melawan demit sebanyak ini” Ucap Cahyo.

Suara petir menggelegar dan memulai turunya hujan deras di hutan ini.

Pak Sardi membaca mantra pembakar dan melawan demit itu satu persatu , namun jumlahnya terlalu banyak. Cahyo segera menyusul Pak Sardi melawan demit-demit itu.

Pikirku , Satu-satunya cara adalah mengalahkan Iblis Andaka itu.

Segera aku membacakan ajian lebur saketi, sebuah pukulan jarak jauh untuk diarahkan pada Iblis Andaka itu , namun serangan itu tidak melukainya sama sekali ,

sebaliknya iblis itu menoleh ke arahku dan menyerangku degan tanganya yang sudah menggenggam tombak tua di tanganya.

Aku mencoba menghindar namun gerakanya terlalu cepat, sebuah tusukan menembus tanganku yang mencoba menahan serangan itu.

Kengerian tidak cukup sampai di sini , dari arah pintu masuk hutan terlihat seseorang yang menari tanpa sadar , tidak hanya satu… beberapa orang lagi menyusul di belakangnya.

Itu adalah warga desa!

 “ Bapak … Maafin sekar, Sekar ga bisa jagain warga desa” ucap sekar yang berlari dan berusaha menahan warga desa.

“ Sekar!! Jangan ke sini! “ Ucap Pak Sardi yang berusaha menghentikan sekar.

Pak Sardi kehilangan konsentrasinya, sebuah serangan dari demit anak buah andaka membuatnya jatuh dan tersungkur.

Suasana di alas mayit semakin mencekam, kekuatan eyang widarpa dibutuhkan di sini. aku menarik keris ragasukmaku dan merapalkan mantra yang diturunkan oleh leluhurku

Jagad lelembut boten nduwe wujud

Kulo nimbali

Surga loka surga khayangan

Ketuh mulih sampun nampani

Tekan Asa Tekan Sedanten…

Di tengah hujan deras , sesosok kakek tua bungkuk berambut panjang berwarna putih muncul dari derasnya hujan.

“ E.. Eyang! Kulo…”

Belum sempat menyelesaikan kata-kataku , eyang segera  menyerang Iblis Andaka dan membuatnya terpental.

“Bocah Asu… Demit iki ben dadi urusanku , kamu urusin warga desa”  Eyang widarpa membelakangiku dan bersiap menghadapi Iblis di tubuh Aswangga.

..

 “ Tunggu… aku kenal kamu kakek tua”  Andaka kembali berdiri dan menghadapi kami.

“ Kamu … Kamu itu Patih Widarpa kan?!!! Kamu yang membawa pergi warga dan Raja dari kerajaan !” Teriak Andaka dengan menunjuk kepada Eyang widarpa.

Tunggu , Patih… Jadi Eyang Widarpa patih yang menyelamatkan raja dan warga dari pemberontakan . Seketika aku teringat sebuah benda yang dititipkan oleh Paklek , dan ternyata bentuk kalung  itu tidak jauh berbeda dengan yang dipakaikan setan penari itu kepada Andaka.

 “ Eyang… apa itu benar? “ tanyaku pada eyang yang tidak merespon ucapan andaka.

“ Bukan urusanmu bocah asu… pergi , masalah yang lebih besar ada di belakangmu” Perintah Eyang widarpa padaku.

“ Baik mbah , sebelumnya terima ini dulu… ini titipan nyai Suratmi “

Aku menyerahkan sebuah pusaka kalung kuningan ke pada eyang, ia terlihat mengenalinya dan segera mengenakanya.

Hal yang aneh terjadi , Tubuh eyang widarpa kembali  tegak,  tubuhnya terlihat menjadi lebih muda layaknya seorang patih kerajaan yang dapat diandalkan.

 “ Jadi… itu benar,  Eyang widarpa seorang patih” Tanyaku sambil sedikit tersenyum.

Eyang widarpa melihat dirinya yang berubah , namun iya kembali melepas kalung itu dan melemparkanya padaku.

 “ Aku ora butuh , Tanpa Nyai Suratmi aku lebih suka dengan wujud ini!”  Ucapnya yang segera mengayunkan cakarnya ke wajah busuk Iblis reinkarnasi  Andaka itu.

Eyang Widarpa terlihat bisa mengimbangi patih andaka. Aku sedikit tenang dan meninggalkanya.

 “ Cahyo! Serahkan tabuh waturingin pada sekar dan Tahan demit-demit  itu! Biarkan Pak Sardi menggunakan Geni Baraloka kepada mereka! “ Perintahku pada Cahyo.

Cahyo memukul dengan keras ke arah tanah dan mengambil jarak dari makhluk-makhluk itu.  Tanpa banyak berbicara ,

mereka melakukan semua yang aku perintahkan.

“Hati-hati Danan… Lawanmu perempuan , jangan lengah!” Ucap Cahyo yang mengetahui maksudku untuk menghampiri Iblis wanita yang menyebabkan semua ini terjadi.

Seolah mengerti kehadiranku , ia menyambutku dengan sebuah tarian yang gemulai.. tarian itu menjadi mengerikan ketika setan itu tersenyum mengerikan tanpa bola mata di wajahnya dan dilakukan diatas tumpukan mayat tumbal dari Aswangga .

Aku mengejarnya , namun setan itu melayang ke arah tubuh Laksmi yang tergantung , merasukinya, dan menjatuhkan dirinya ke sendang banyu ireng.

Roh Laksmi masih menari di sana, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.

Dari dalam sendang banyu ireng , terlihat tubuh Laksmi bangkit dari dalam air , luka-luka pada tubuhnya sudah menghilang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Satu persatu baju Laksmi yang penuh darah dilepaskan hingga tidak sehelai benangpun tertinggal di tubuh Laksmi yang indah itu.

“ Danan… ini aku Laksmi “

Dengan tubuh yang basah dan tanpa pakaian, Laksmi menghampiriku dan melemparkan senyumnya yang manis..

seperti saat pertama kali aku datang ke desa windualit.

“ Nggak.. ga mungkin , aku melihat semuanya… kamu setan yang mencuri tubuh Laksmi” Aku membacakan mantra pada tanganku dan bersiap menyerang Laksmi.

Namun keindahan tubuh Laksmi yang berada dihadapanku dan kenanganku bersamaya menahan itu semua.

“ Cukup Danan… jangan sakiti aku lebih dari ini” Ucap Laksmi dengan wajah yang memelas.

Ucapan Laksmi benar-benar menyentuh , aku tak tahu harus berbuat apa..

rasa bimbang yang amat sangat muncul. Aku tidak bisa membedakan lagi mana yang benar.

Di tengah sendang dan diterangi cahaya bulan , Laksmi berdiri anggun di hadapanku dengan memamerkan keindahan tubuhnya.

Laksmi mendekat..

 “ Aku sudah tidak apa-apa Danan.. aku cuma butuh kamu “ Ucap Laksmi menempelkan badanya padaku dan memeluku.

Rasa bimbang  dan kehangatan yang muncul di diriku membuatku tak mampu lagi menahan akal sehatku.

Tanganku membalas pelukan Laksmi , kulitnya yang halus dan pelukanya yang hangat membuatku merasa tenang. “ Laksmi… Aku ga akan ninggalin kamu lagi”

………..

Bersambung Part AkhirGending Alas Mayit Tataran Pungkasan (Pertunjukan Akhir)

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit

CERITA HOROR TWITTER FULL Desa Windualit , Sebuah desa terpencil yang jauh…

Cerita Horror Twitter : Sang Pejalan Malam

Cerita Horror Twitter Judul : Sang Pejalan Malam Peulis ; @acep-saep88 Halo,…

Cerita Horor Twitter : Russin – Catatan Si Juni Part1

Cerita Horor Twitter Judul : Rusin – Catatan Si Juni Penulis :…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 – Geni Baraloka

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 6 dari serial cerita horor…