cerita horor twitter gending alas mayit

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 5 dari serial cerita horor Gending Alas Mayit. Bagi yang belum membaaca part 4, baca dulu ya part 4-nya >>>

Gending Alas Mayit Part 4

Gending Alas Mayit Part 3

Cerita Horor Twitter Gending Alas Mayit Part 2

Gending Alas Mayit Part 1

Cerita Horor Twitter

Judul : Gending Alas Mayit – Desa Terkutuk

Penulis : @Diosetta

Sekumpulan orang datang menghampiri Cahyo dan Paklek. Sepertinya , mereka dari kota yang cukup jauh. “ Paklek , Cahyo… sudah lama sekali ya , dulu kamu masih sekecil ini lho cahyo” Ucap seorang pria yang datang menghampiri rumah Paklek.

Mereka berbincang panjang lebar seolah sedang bernostalgia akan sesuatu. Aku? Aku hanya duduk termenung di ujung ruangan. Cerita sekar mengenai Laksmi sungguh membuatku sangat terpuruk.

Tidak mungkin seorang laksmi yang baik dan ramah bisa mati di tangan anak buah seseorang bernama Aswangga itu.

“Danan… sini lho , tak kenalin sama mas-masku “ Panggil Cahyo dari ruang tamu. Aku menghampiri mereka sambil berusaha menyembunyikan wajah murungku.

“ Saya Danan mas… majikanya Cahyo” ucapku sambil menjabat tangan teman-teman cahyo.

Cahyo segera menoleh dan melemparkan sarungnya ke arahku. “Enak aja… majikan mbahmu , emangnya aku mbok gaji piro?” Jawab cahyo yang mengerti maksud candaanku.

“ wah.. mas danan bisa aja .. saya Ardian , ini Nizar dan Ramto… “ Ucap mereka memperkenalkan diri. Paklek mendekat sambil membawakan minuman yang telah disiapkan Bulek dari dapur.

“Ini.. Diminum dulu, terima kasih lho sudah jauh-jauh mau mampir ke sini” Ucap Paklek menyambut mas ardian dan teman-temanya.

Perbincangan-perbincarang ringan terbentuk diantara kami , hampir sebagian besar merupakan cerita tentang bagaimana paklek dan cahyo waktu masih kecil sempat menyelamatkan mereka dari bahaya di pabrik gula.

“Cahyo , Paklek… kami sudah mencoba mencarikan informasi semampu kami, dan berujung kepada seseorang bernama Mbah Rusman” Ucap mas ardian. “Katanya dulu dia warga desa windualit yang bertahan dari kutukan yang sedang kalian hadapi itu”

Sebagian besar, kami sudah mengetahui cerita mas ardian lewat telepon , namun dengan bertemu langsung , cerita mereka tentang mbah rusman terasa lebih menyedihkan.

“Sebentar mas ardian , sebelum dilanjutin ceritanya biar saya panggil sekar dulu “ Ucap cahyo memotong cerita mas ardian.

Sambil Mas Ardian melanjutkan ceritanya, Mas Nizar masuk kedalam mobil dan mengambil sebuah benda yang terlihat cukup besar. “Nah… ini barangnya “ ucap mas adrian membukakan sebua bungkusan yang berisi sebuah gong kecil dan pemukulnya.

“ Menurut cerita mbah rusman , pemukul ini yang disebut dengan tabuh waturingin.. namun ini tidak cukup untuk satu warga desa.

kalian harus membuatnya dari kayu pohon beringin tua di sebuah sendang di hutan” Cerita mas Ardian. Paklek terlihat terfokus pada benda itu dan memperhatikan energi yang keluar darinya.

“Sendang banyu ireng… saya pernah ke sana paklek” Ucapku pada paklek. Aku mengingat sebuah tempat yang digenangi air berwarna hitam di dalam Alas Mayit.

“ ya sudah mas ardian, benda ini kami terima ya.. terima kasih banyak” Ucap paklek kepada mas ardian. Terlihat paklek sengaja memotong ceritaku agar mereka tidak terlalu terjun ke dalam permasalah mengerikan ini.

“ Iya mbah, kami sangat senang bisa membantu” Ucap Mas Ranto menggantikan Mas Ardian yang sedang berfikir.

“Paklek.. mas danan… cahyo , kami tau ini tidak mudah tapi kalau bisa selesaikan ini sebelum purnama berikutnya, sebelum kutukan itu menyerang mbah rusman lagi” Pinta mas ardian dengan wajah yang serius.

Kami mengerti maksud mas ardian dan berjanji menyelesaikan ini secepat mungkin.

“ Oiya paklek.. mohon maaf, Korek pemberian paklek saya serahkan kepada mbah rusman dan cucunya.. safa pikir, mungkin itu bisa membantu mereka” Ucap mas ardian lagi.

“Yang kamu lakukan sudah benar, korek itu sudah seharusnya berada di tangan mereka yang membutuhkan” Balas paklek sambil menepuk mundak mas ardian.

Setelah perbincangan serius itu.. kami berpisah , Cahyo mengajak teman-temanya itu melihat pabrik gula tempat kerjanya yang sudah direnovasi dan sore harinya mereka sudah berpamitan pergi.

“ Gak nyangka, kamu punya teman-teman sehebat itu” Ucapku pada cahyo. “ iya donk, tapi sayangnya temanku yang paling hebat lagi galau gara-gara kehilangan perempuan.. “ Cahyo menyindirku , namun aku tahu maksud baiknya untuk menyemangatiku.

“ Panjul, Danan, Sekar… Kita kumpul di pendopo” Teriak paklek sambil berjalan ke halaman belakang.

Kami menyusul paklek ke pendopo dan duduk lesehan sekenanya. Suara pohon yang ditiup Hembusan angin malam memecah keheningan di halaman belakang rumah.

“Paklek sudah mampir ke desa windualit…” Paklek berbicara dengan wajah serius. Kami saling menatap , sudah jelas paklek tidak pernah menginggalkan desa ini, Tapi kenapa paklek bisa berkata seperti itu.

“ Paklek ke sana dalam raga sukma, Warga disana masih selamat, namun banyak yang terbaring tak berdaya seolah kehilangan rohnya..

Di sana seseorang, mungkin itu adalah ayahnya sekar… ia terlihat sibuk menjaga tubuh korban-korban itu siang dan malam” cerita paklek sambil menoleh pada sekar.” Sekar terlihat menghela nafas , seolah lega mendengar kabar mengenai ayahnya.

“ Danan… walaupun kemarin eyang widarpa terlihat acuh , ternyata saat ini ia sedang berkeliling alas mayit mencari sesuatu , temui dia sebelum kamu masuk ke dalam hutan itu” Perintah Paklek.

“ Baik Paklek “ aku mengerti maksud paklek, eyang widarpa memang sama sekali tidak bisa ditebak.

“o iya, dan satu lagi… ini peninggalan nyai suratmi , tolong berikan pada eyang nanti “ Paklek menyerahkan sebuah kalung kuningan seperti yang biasa dipakai prajurit-prajurit jaman dulu.

Aku segera mengambil dan menyimpanya. Sebenarnya aku penasaran , apa reaksi eyang widarpa saat menerima ini.

Paklek menutup perbincangan kami dengan mengajarkan sebuah mantra penyembuh kutukan, termasuk kepada sekar. Paklek bilang, mungkin nanti ayah sekar akan membantu kami di alas mayit, jadi sekar harus bisa membantu warga untuk menahan kutukan yang diterima warga desa.

Paklek tidak ikut, ia masih bertugas menjaga pabrik gula yang ia kelola. Namun Paklek bilang bahwa ia sudah meninggalkan sesuatu untuk membantu kami di sana.

Kami berganti angkutan beberapa kali sampai akhirnya kami turun di sebuah persimpangan yang terdapat jalan setapak menuju hutan hutan.

“ Dari sini masih berapa lama?” Tanya cahyo pada sekar. “ kalo jalanya cepet, mungkin bisa 2-3 jam” Jawab sekar.

“ Ya udah, kalo sekar capek bilang ya… nanti mas gendong” Goda cahyo dengan memasang wajah genit yang kususul dengan pukulan di kepalanya.

“ Inget , kita mau nolong orang.. jangan sampai ilmumu ga bisa dipake gara-gara kualat” Aku memperingatkan cahyo.. “iya.. mudeng kok, maksudnya biar ga terlalu tegang aja” jawab cahyo.

Aku tahu benar, cahyo memang tidak mungkin berbuat aneh aneh , daritadi ia memang terus memperhatikan sekar yang terlihat cemas selama perjalanan.

Kami melalui hutan-hutan yang rindang, sesekali kami beristirahat di pinggir sungai untuk sekedar menarik nafas dan mencuci muka sampai akhirnya kami sampai di desa sekar tepat sebelum malam.

Aku sedikit bernostalgia dengan desa ini, sudah ada kemajuan saat aku tersesat disini listrik masih belum menerangi desa ini. Selain itu tidak banyak yang berbeda , selain sebuah rumah yang terlihat cukup besar di tengah-tengah desa. Mungkin saja itu rumah juragan kaya yang bernama Aswangga.

Beberapa orang terlihat berkumpul di balai desa. Sekar segera berlari menuju kesana. “ Bapak! Sekar pulang” teriak sekar yang bergegas menemui ayahnya di tempat itu.

“Sekar…” Ucap ayah sekar yang segera memeluknya , sepertinya ia juga sadar dengan keberadaanku. Aku dan cahyo segera menyusul untuk menemui ayahnya sekar itu.

“ Mas Danan… kamu bener mas danan kan?” ucap pak sardi dengan senyuman di wajahnya. “ Iya Pak Sardi , ini saya.. dan ini teman saya cahyo” jawabku sambil memperkenalkan cahyo.

Sekar menceritakan tentang bagaimana dia diselamatkan oleh cahyo dan dipertemukan denganku, termasuk mengenai mbah rusman.

“Wah ada tamu dari jauh nih… “ seorang pria paruh baya datang menghampiri kami. “Eh pak kades.. lama sekali ndak ketemu “ ucapku menyambutnya.

Pak Kades dan Pak Sardi menceritakan panjang lebar mengenai apa yang terjadi di tempat ini dan bagaimana bisa banyak warga terbaring tak berdaya di tempat ini.

“ Mas Danan, Mas Cahyo ayo mampir ke rumah dulu… nanti tidur di rumah saya saja, ada kamar kosong disana” Ucap Pak Sardi.

“ Waduh ga usah repot-repot pak , nanti saya tidur di rumah singgah aja.. mau nostalgia “ Balasku pada pak sardi . “ Pak Sardi , Istirahat dulu… warga yang terkena kutukan biar kami yang mengobati” ucap Cahyo kepada pak sardi.

Ternyata dari tadi cahyo memperhatikan kondisi pak sardi yang sudah terlihat sangat kelelahan, rasa capek kami selama perjalanan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding yang pak sardi rasakan.

“Bener nih, kalian habis perjalanan jauh lho.. pasti capek” Pak sardi memastikan pada kami. “bener pak.. Sekar , tolong antar Bapak ke rumah ya.. suruh istirahat, biar kami ditemani sama pak kades.. “ Perintahku pada sekar.

Sekar mengangguk dan mengerti maksud kami , memang wajah kami terlihat serius setelah memasuki desa ini. Tak ada lagi candaan keluar dari mulut cahyo.

“Pak Kades.. saya mohon ijin memeriksa warga desa” Ucap cahyo sambil mepersiapkan peralatan dari ranselnya. “Monggo mas… tapi jangan memaksakan diri ya” Jawab pak kades yang di susul dengan beberapa makanan ringan dan teh hangat yang diantar oleh warga desa.

Kami memeriksa seluruh warga yang terbaring disini , jelas terlihat.. roh mereka tidak berada pada tubuhnya, namun sebuah kekuatan menjaga agar tidak ada entitas lain yang masuk ke tubuh mereka. Mungkin itu adalah perbuatan pak sardi.

Kami hanya membacakan mantra pelindung untuk menahan serangan-serangan yang mungkin datang ke tempat ini.

“Danan… kita harus beresin ini semua , ini keterlaluan” Ucap Cahyo padaku. “ Sabar jangan gegabah… malam ini kita persiapan dulu , malam ini bukan bulan purnama.. seharusnya aman” aku mencoba menahan emosi cahyo.

Setelah selesai memeriksa warga, kami berpamitan ke rumah singgah yang terletak tak jauh dari balai desa. Setelah membereskan semua peralatan , kami melakukan persiapan untuk esok malam.

“ Cahyo.. tak coba cek dulu, paklek ninggalin apa di sini” ucapku pada cahyo sambil memasang posisi meditasi. “ ya sudah sana… aku jagain” balas cahyo.

Aku memisahkan sukmaku dari raga, sebuah aura kelam terlihat mengelilingi hampir seluruh sudut desa ini, dan benar sumbernya dari alas mayit. aku mencoba berkeliling desa dan mencari tahu lebih dalam mengenai aura kelam ini.

Dari perbatasan desa dan alas mayit, terlihat nyala api berwarna putih yang menambah besar secara perlahan. Geni Baraloka , salah satu ilmu terhebat milik pakde.. dengan api ini, kami bisa menenangkan roh-roh penasaran yang belum tenang tanpa harus bertempur, Tapi aku ragu besar api ini akan cukup besar untuk melawan seisi penghuni hutan ini.


Belum sempat menemukan petunjuk yang berarti , perlahan terdengar suara mendengung dari dalam hutan. Itu adalah suara gong yang dipukul pelan dan disusul dengan suara gamelan, persis seperti apa yang kudengar saat sekar kesurupan.

Tapi.. bukanya malam ini bukan purnama?

Layaknya iring-iringan kerajaan , dari dalam hutan muncul kereta kencana bersama dengan sinden yang melakukan tarian-tarian gemulai. Bahaya semakin kurasakan, segera aku menarik sukmaku kedalam tubuh untuk memberitahu cahyo dan pak sardi.

“Cahyo… sepertinya kita harus bersiap , suara gamelan muncul dari dalam hutan.. “ aku memberi tahu cahyo dengan apa yang kulihat.

“ tapi sekarang bukan bulan purnama? “ bantah cahyo.

“ Sepertinya mereka merasakan ancaman, iring-iringan kereta demit itu juga mengarah kesini.. pokoknya siap-siap” perintahku Kami mengambil tabuh waringin dan gong kecil yang kami bawa dan keluar dari rumah singgah.

Suara gamelan sudah terdengar dengan semakin jelas, semua warga termasuk pak sardi juga serentak keluar dari kediamanya dan berkumpul ke balai desa.

“ Mas danan, gimana ini.. jangan sampai ada korban lagi” Ucap pak kades yang menghampiri kami. “Tenang pak , tidak akan kami biarkan.. “

aku menenangkan pak kades sambil memperhatikan gelagat warga mencari apakah ada yang terpengaruh suara gending itu. “Pak Sardi… Sekar ? Mana sekar?” Cahyo yang tidak menemukan keberadaan sekar menanyakan kepada pak sardi yang datang bersama warga.

“ Lah nak cahyo, tadi sekar pamit mau mengantarkan makanan untuk kalian” ucap pak sardi yang mulai cemas.

Insting cahyo memaksanya untuk berlari ke balai desa, dan mendobrak pintu kayu yang tertutup disana. “ Danan! Disini!” teriak Cahyo memanggilku. Aku berlari dan segera memperhatikan apa yang dilihat oleh cahyo.

Di tengah-tengah warga yang terbaring , Sekar menari dengan gemulai mengikuti irama gamelan dan mengelilingi warga yang terkena kutukan. “ Sekar , lawan sekar! “ teriak pak sardi yang mencoba menghentikan anaknya itu, namun itu semua sia-sia.

Pak sardi terpental dengan kekuatan besar yang memancar dari tubuh sekar, sekar menoleh dengan senyum mengerikan di wajahnya. “ satu persatu kalian akan mati… tidak ada tempat bagi kalian untuk lari “ suara mengerikan terdengar dari mulut sekar.

cahyo berlari mendekat dan memukul gong dengan tabuh waringin pemberian mbah rusman. Suara mendengung panjang terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

Tarian sekar sempat terhenti.. ia terjatuh dan memuntahkan cairan berwarna hitam. Sekar mencoba menari lagi , dan dihentikan dengan suara gong yang dipukul oleh cahyo.

Sekar yang kesurupan terlihat semakin kesakitan, namun samar-samar terlihat bayangan wanita yang hampir terpisah dari tubuh sekar.

“ Laksmi… roh laksmi yang merasuki sekar!” Teriaku pada pak sardi. Pak sardi mengambil posisi dan membacakan doa-doa untuk menghentikan pergerakan demit yang ada di tubuh sekar.

Aku teringat geni baraloka yang ditinggalkan paklek, sebuah mantra pemanggil kuucapkan untuk menarik sebagian dari api itu dan melemparkan kepada sekar. Sekar yang merasa kepanasan mulai terjatuh dan kehilangan kesadaran.

Dihadapanku ada sesosok roh wanita berpakaian kebaya memandangku dengan wajah yang pucat. Aku mengenalnya… itu Laksmi. Suara gamelan terdengar semakin keras , Demit berwujud laksmi itupun mendekat hingga menembus tubuhku. Aku kehilangan kesadaran, namun sebuah penglihatan muncul di kepalaku.

Terlihat seorang laki-laki berbicara dengan laksmi. “ Lihat.. ini foto orang tuamu? “ aku pastikan mereka akan di hukum mati setelah ini. Ucap orang itu mengancam laksmi.

“Jangan Aswangga… tolong, wis cukup kamu mengurung mereka bertahun tahun.. ” Laksmi memohon sambil menangis. “ kesalahan mereka ra iso dimaafke, kecuali… kowe arep nuruti semua perintahku” Aswangga mencoba mengintimidasi laksmi.

“Apa…? Apa yang kamu mau?? Tak lakuin semua .. asal kamu berjanji membebaskan mereka” Ucap laksmi sambil menutup wajahnya menahan air mata yang menetes di pipinya.

“ Aku membangun sebuah rumah di sisi belakang hutan… temui aku di sana setiap malam bulan purnama” Perintah aswangga sambil melemparkan foto kedua orangtua laksmi dan meninggalkanya.

Sebuah rumah kecil terlihat di sisi belakang hutan, sebuah lampu minyak sudah menyala dengan terang di dalam. Seorang wanita berjalan dengan ragu menuju rumah itu, ia sempat terhenti di depan pintu , namun rasa sayangnya kepada kedua orang tuanya memaksanya untuk masuk.

“Aku sudah di sini… apa yang kamu mau?” Tanya laksmi. Aswangga tidak menjawab , ia hanya berjalan ke arah pintu dan menguncinya.

“Harusnya kamu sudah tau apa yang aku mau…” Ucap aswangga sambil menyentuh pipi Laksmi. Laksmi mundur , namun Aswangga menahan kedua tanganya…

Aku tak sanggup melihatnya , bibir mungil laksmi di lumat dengan paksa oleh aswangga .

Tangan biadab itu meraba ke seluruh tubuh laksmi dengan penuh nafsu. Laksmi mencoba melawan, namun tamparan keras menghantam ke pipinya. “Jangan coba melawan! Kecuali.. kamu mau orang tuamu pulang tanpa nyawa” Ancam aswangga.

Laksmi ketakutan dan tak berani melawan , ia hanya pasrah saat kesucianya direnggut dan tubuhnya di nikmati oleh aswangga. Terlihat air mata laksmi tak henti-henti membasahi tempat itu.

Setiap malam purnama, laksmi harus melayani nafsu bejat Aswangga. Sampai akhirnya ia merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Laksmi mengandung anak dari aswangga…

Beberapa kali laksmi memberi tahu aswangga secara diam diam, namun Aswangga menentangnya tidak percaya. Sampai akhirnya , ia mengatakanya di depan warga desa.

“ Ini anakmu mas! Anakmu!” Ucap laksmi yang kepada aswangga yang dibalas dengan pukulan keras yang menyebabkan laksmi terjatuh. Melihat kejadian itu, warga berkerumun dan anak buah aswangga segera menyusul menghampiri aswangga.

“ Perempuan brengsek! “ Aswangga memukuli laksmi tak hanya sekali, setiap ia akan berbicara aswangga menghentikanya dengan menghajarnya. Tidak ada satupun warga yang berani percaya dengan kata-kata laksmi , temasuk istri aswangga.

“Uwis , Pateni wae” (sudah, bunuh saja) Teriak salah seorang anak buah Aswangga memanaskan emosi warga. “Jangan pak , bicarakan baik-baik dulu” ucap salah seorang warga ,Sekali lagi pukulan yang keras menghantam laksmi, dan wanita itu hanya diam berlutut sambil melindungi janin di perutnya.

“ Sudah pak , Sudah… jangan sampai ada yang mati, kalau terpaksa.. usir saja dia dari desa ini” Ucap kepala desa yang merasa takut dengan pengaruh Aswangga dan anak buahnya yang terlihat bengis.

“Baik… Bawa dia! Usir dia dari desa ini!” Perintah Aswangga kepada anak buahnya. Tiga orang bertubuh besar dengan kasar menarik tubuh Laksmi menyeretnya membawanya keluar dari desa.

Di tengah perjalanan, salah seorang anak buah aswangga tergoda dengan tubuh Laksmi yang terlihat dari bajunya yang terkoyak.

“ Gowo ning alas wae piye?” (Bawa ke hutan aja gimana?) ucap salah seorang anak buah aswangga sambil memberikan isyarat kepada teman temanya. “Wah… pinter kowe “ Ucap temanya sambil tersenyum.

Laksmi dipaksa berjalan menyusuri hutan di perbatasan desa itu, sampai di kedalaman hutan anak buah aswangga melucuti pakaian laksmi hingga tak sehelipun benang ada ditubuhnya.

Laksmi menangis sejadi-jadinya melindungi tubuhnya , satu persatu anak buah aswangga memperkosa laksmi dengan kejam… Pukulan demi pukulan menghantam tubuh laksmi hanya untuk memuaskan nafsu anak buah aswangga yang biadab itu.

“ Emang dasar perempuan goblok! Orang tuamu itu udah mati! “ Ucap salah satu anak buah aswangga. Ditengah tangisanya, laksmi mencoba melawan. “ Gak mungkin, Aswangga sudah janji tidak akan membunuh mereka!” Teriak laksmi.

“ Bukan Aswangga yang membunuh mereka… warga desa kesayanganmu itu yang membuat kedua orang tuamu mati!” lanjut anak buah aswangga sambil tertawa.

“ Ibumu itu , selingkuh dengan kepala desa… dan ayahmu menghamili bocah dibawah umur saat di kota”

“ ayahmu dihukum rajam oleh warga dan kepala desa , yang akhirnya melarikan diri ke hutan ini yang akhirnya gantung diri , ibumu tak berani menahan malu.. dia menenggalamkan diri di sungai”

Aku tidak percaya akan semua cerita ini, warga desa windualit yang begitu ramah ternyata begitu kejam terhadap laksmi dan kedua orang tuanya. Aku emosi, jika ini benar .. aku harus membuat perhitungan pada aswangga , pak kades dan warga desa..

“ Brengsek kalian! Bajingan kalian warga desa windualit! Aku akan membalas semua ini… “ Teriak laksmi yang dibalas dengan jambakan anak buah aswangga yang masih ingin melampiasakan nafsunya.

“ Dendam! Aku dendam! Kalian harus mati!!” Teriak laksmi dengan wajah yang putus asa.

Setelah puas menyiksa dan memperkosa tubuh laksmi, anak buah aswangga meninggalkan laksmi tergeletak begitu saja.

Hari semakin malam… tak ada satupun cahaya masuk ke hutan itu. Laksmi tersadar dan menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit.

Di tengah rasa dendam yang menyelimutinya, ia sampai ke sebuah sendang yang digenangi dengan air yang berwarna hitam. Bau busuk mengelilingi tempat itu. “ mati… warga desa harus mati…” bisik laksmi di setiap langkahnya.

Suara gemericik air terdengar, riak air muncul dari genangan air yang berwarna hitam itu. Sebuah kepala dengan sanggul di kepala muncul dari dalam sendang, namun tak ada bola mata di wajah itu. Makhluk itu berdiri dan semakin mendekat ke laksmi.

“ khikhikhi…. Aku iso nulungi kowe mateni wong wong kuwi” (aku bisa nolongin kamu membunuh orang-orang itu) ucap makhluk itu pada laksmi. Laksmi memandang setan itu, setelah semua yang iya lalui , wajah seram setan itu sama sekali tidak membuatnya takut.

“ Tak wenehi opo wae.. sing penting warga desa mati!” (saya kasi apa saja.. yang penting warga desa mati!) Ucap Laksmi kepada makhluk itu.

Suara gong berbunyi , penglihatanku menjadi kabur.. Mataku kembali melihat orang-orang di balai desa, Aku masih terbawa emosi..

selain itu roh laksmi masih berdiri di depanku, dan wajahnya tidak lebih dari sejengkal dari wajahku. “ Kamu sudah tau semuanya danan… kamu masih mau membantu warga desa yang biadab itu” ucap demit itu kepadaku.

Wajahku merah padam, terlihat di pintu ruangan pak kades berdiri dengan seseorang yang dijaga oleh beberapa anak buahnya.. Itu pasti Aswangga… aku merapalkan ajian lebur saketi pada tanganku dan bersiap menyerang mereka.

“ Balaskan dendamku danan! Balaskan rasa sakitku! Dan jadi lah pangeranku di Alas Mayit!” Ucap Roh laksmi diikuti dengan tawanya yang mengerikan.

(Bersambung Part 6 – Geni Baraloka) >>> Gending Alas Mayit Part6

1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part6 – Geni Baraloka

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 6 dari serial cerita horor…

Cerita Horor Twitter : Rusin – Catatan Si Juni Part2

Ini adalah part 2 dari cerita horor Rusin – Cerita Si Juni.…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part7 – Pagelaran Tengah Wengi

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 7 dari serial cerita horor…

Cerita Horor Twitter : Gending Alas Mayit Part3 – Ikatan Masa lalu

Cerita Horor Twitter – Ini adalah part 3 dari serial cerita horor…