filsafat bubur merah
Bubur merah (bubur coklat) adalah bubur yang terbuat dari nasi putih dan dicampur gula jawa sebagai pewarna merah (coklat). Sedangkan bubur putih terbuat dari nasi putih yang diberi campuran santan dan taburan daun pandan.  Sebenarnya bubur merah tidak berwarna merah layaknya warna merah yang ada, melainkan berwarna agak keclokatan karena diberi campuran gula jawa.
 
Masyarakat jawa memercayai jika weton kelahiran itu lebih bagus jika dibancai (diselameti, bentuk syukur) dengan bubur merah dan putih. Dengan tujuan untuk mengingatkan kita atas runtutan proses sampai kita lahir, yaitu menyatunya bapak dan ibu yang dilambangkan dengan bubur merah dan putih.

Filsafat Bubur Merah Putih

Photo From : EvarMR Pinterest

Bubur merah dan putih ini dimaksudkan sebagai lambang kehidupan manusia yang tercipta dari air kehidupan orang tuanya. Yakni bersatunya sperma yang dilambangkan dengan warna putih dan ovum yang dilambangkan dengan warna merah.
 
Bubur merah dan bubur putih diartikan sebagai simbol terjadinya anak, karena bersatunya darah dari ayah dan ibu. Maka dari itu maksud dari sajen bubur merah dan bubur putih ketika acara wetonan adalah sebagai bentuk setiap orang untuk menghormati orang tuanya.
 
Berbeda lagi ketika saya bertanya kepada simbah saya yang bernama Suwaji  berumur 65 tahun, bahwa makna atau filosofi bubur merah putih adalah sebagai lambang keberanian dan kesucian. Warna merah melambangkan keberanian dan warna putih melambangkan kesucian.
 
Pada acara pemberian nama menurut tradisi jawa, bubur merah putih tidakp ernah lepas, karena bubur ini sebagai simbol harapan kedua orang tua untuk anaknya. Agar kelak anak tersebut memiliki keseimbangan antara sifat pemberani dan sifat suci atau baik hati.
 
Sedangkan pada momen pendirian rumah, kedua bubur ini sering disandingkan dengan dengan bendera merah putih  dan makanan lainnya. Makna dari kedua bubur ini pun sedikit bergeser, yaitu sebagai simbol cinta terhadap tanah air yang ditinggali. Baca juga filosofi  tradisi tentang pemasangan bendera merah putih di atap rumah.

Tradisi Wetonan

Photo From : Budayajawa.id
 
Manfat dan tujuan wetoan dalah “ngopahi sing momong – memeberi upah kepada yang mengasuh” , karena orang jawa percaya dan memahami bahswa setiap anak yang lahir ada yang ‘mengasuh” (sedulur tuwo) sejak lahir. Sedulur tuwo bertugas membimbing dan mengarahkan agar seseorang tidak salah langkah. Sedulur tuwo dengan sebisanya akan menjaga kita agar bisa terhindar dari perilaku yang keliru, tidak tepat, ceroboh, dan merugikan. Antara sedulur tuwo dan yang diasuh sering kali terjadi tarik menarik.
 
Sedulur tuwo menggerakkan kearah kareping rasa, atau mengajak kepada hal-hal baik dan positif, sementara kita (yang diasuh) cenderung menuruti rasaning karep atau ingin melakukan hal-hal semaunya sendiri, menuruti keinginan nafsu. Antara sedulur tuwo dan yang diasuh terjadi tarik menarik. Dalam tarik menarik ini sedulur tuwo tidak selalu memenangkan pertarungan itu, alias lebih memilih untuk mengalah.
 
Kepercayaan jawa mengatakan bancakan weton (bentuk bersyukur atas kelahirannya) dilakukan pada malam hari weton ada juga yang dilakukan di pagi hari. Weton merupakankombinasi hari penanggalan masehi dan hari penanggalan jawa. Kalau penanggalan masehi punya hari ahad-sabtu, maka penanggalan jawa mengenal istilah pasaran, yaitu : Legi, Pahing, Pon, Wage Kliwon.
 
Wetonan itu mirip dengan ulang tahun, tetapi bisa terjadi 9 sampai 10 kali dalam setahun. Tradisi wetonan didasarkan pada kalender jawa ditambah dengan harinya. Siklus tersebut terjadi setiap 36 hari sekali. Misalnya kamu lahir di hari Senin kebetulan bertepatan dengan pasaran Legi, berarti weton kamu senin lagi. Dan siklus senin legi ini akan terulang lagi setiap 36 hari. Jadi pada hari ke-36 itulah weton kamu dirayakan.
 
Namun tidak semua orang merayakan weton setiap 36 hari, kebanyakan hanya merayakan ketika bertepatan dengan acara lain, atau ketika sedang mendapat banyak rejeki. Perayaannya pun berbeda-beda, ada yang cukup dengan merenung dan berdoa, ada juga yang membagi-bagikan makanan kepada tetangga. Bagi mereka yang kebetulan banyak rejeki acara wetonan bisa berupa acara sosial dan berdoa bersama.
 
Hal yang selalu hadir ketika acara wetonan adalah bubur merah dan bubur putih dengan maksud seperti yang dibahas di atas. Hanya saja sekarang kayaknya sudah semakin berkurang, karena orang –orang terdahulu sudah banyak yang meninggal dan digantikan orang-orang milenial.
 
Nah itulah ulasan singkat tentang filosofi bubur merah putih pada tradisi wetonan. Semoga memberikan wawasan baru dan semoga bermanfaat.
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Belajar Bahasa Inggris dari Main Game dan Nonton Film

Sebagai bahasa international, tentu bahasa inggris menjadi mata pelajaran pokok di bangku…

Kumpulan Quote, Kata-Kata Bijak, Kata Mutiara dan Nasihat Gus Miftah Saat Ceramah

albabbarrosa – Salah satu Pendakwah agama islam yang dekat dengan kawula muda…

Berulah Sejak Sebelum Masehi Sampai Sekarang, Sejarah Konflik Israel dengan Palestina Dari Masa ke Masa

Pada tanggal 15 Januari 2009 ini serangan rezim zionis Israel ke Gaza…

Filosofi Watak Orang yang Lahir Hari Jumat Wage

Image by LoggaWiggler from Pixabay Masyarakat Indonesia kaya akan ragam budaya dan…