Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kajian tentang masyarakat tutur dipusatkan pada bahasanya, tentang berbagai cara yang dimiliki oleh anggota masyarakat tertentu untuk berbicara sesuai dengan konteks sosial. Pakar sosiolinguistik sepakat tentang adanya hubungan sebuah bahasa dengan masyarakat penuturnya. Lalu hubungan yang bagaimanakah yang terdapat di antara bahasa dengan masyarakt itu?
Menurut Addul Chaer dan Leoni Agustina, hubungannya adalah adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Misalnya untuk kegiatan pendidikan kita menggunakan ragam baku, untuk kegiatan sehari-hari di rumah kita menggunakan ragam tak baku, untuk kegiatan berbisnis kita menggunakan ragam usaha, dan untuk kegiatan mencipta karya seni (puisi atau novel) kita menggunakan ragam sastra.[1]
Selain berhubungan dengan kondisi, atau konteks kejadian tindak tutur, bahasa juga mempunyai hubungan dengan tingkatan sosial masyarakat. Hal ini memungkinkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda terhadap tingkat sosial yang berbeda pula.
Startifikasi sosial dalam suatu masyarakat menimbulkan ragam bahasa, dan selanjutnya ragam bahasa memperkokoh startifikasi sosial. Di inggris anak-anak yang berasal orang tua yang berstatus kerja di pabrik tidak diperkenankan masuk universitas. Startifikasi sosial mempengaruhi pemilihan bahasa dalam tingkatan-tingkatan bahasa disebut unda-usuk. Unda-usuk dapat kita lihat pada bahasa jawa, seperti yang dikatakan oleh Soepomo, “bahasa mempunyai tingkat tutur yang sangat kompleks”. Perbedaan tingkat tutur ini disebabkan karena startifikasi sosial.[2]
Dalam bahasa jawa kita bisa melihat perbedaan penggunaan variasi bahasa ketika berbicara dengan yang sederajat dan dengan orang lain yang derajatnya lebih tinggi. Ketika seorang anak berbicara dengan ayahnya maka anak tersebut harusnya menggunakan bahasa krama sesuai dengan adat sosial. Dan ketika anak tersebut berbicara dengan temannya maka anak tersebut menggunakan bahasa ngoko.
Ragam bahasa tersebut (yang berkaitan dengan strata sosial) bukan hanya terjadi dalam masyarakat tutur bahasa indonesia saja, atau masyarakat tutur bahasa jawa saja, akan tetapi juga terjadi di berbagai negara. Seperti yang terjadi pada masyarakat tutur bahasa arab (Bangsa Arab). Seperti yang kita tahu bahwa Bangsa Arab juga mengenal sistem kerajaan, dan juga memiliki kabilah-kabilah besar, selain itu juga ada masyarakat Bangsa Arab yang hanya sebagai pedagang biasa atau tukang bangunan biasa Perbedaan-perbedaan strata sosial itu memunculkan ragam-ragam bahasa berdasarkan tingkatan sosial. Begitupun pada masyarakat keturunan Arab yang di indonesia.
Tingkatan sosial dalam masyarakat keturunan Arab tersebut menimbulkan variasi-variasi bahasa yang penggunaannya disesuaikan dengan strata sosialnya. Adanya tingkatan sosial tersebut bisa dilihat dari dua segi, pertama dari segi keningratan atau kebangsawanan dan kedua dari segi pendidikan dan keadaan ekonomi yang dimiliki (Agustina, 2004: 39). Ragam bahasa yang digunakan oleh Dhu’afa wa Miskin bisa jadi berbeda dengan ragam bahasa yang digunakan oleh sayyid atau syarif.[3]
Sebagai contoh, dalam sebuah forum resmi, misalnya ketika ada tamu dari Yaman asli datang ke komunitas mereka. Kalimat penghormatan yang mereka sampaikan     سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد (kepada yang terhormat Sayyid Profesor Zaid) walaupun belum profesor. Dibandingkan dengan sambutan kepada tamu undangan umum dari masyarakat keturunan Arab cukup diungkapkan dengan kalimat   السادة والسادات الكرام  (bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati). Kalimat سماحة الشيخ السيد الأستاذ زيد ini menunjukkan bahwa orang yang ditunjuk berada pada strata sosial yang tinggi ditunjukkan dengan kata سماحة  karena ketinggian ilmunya, dibandingakn dengan kebanyakan orang umum yang cukup dengan kata الكرام.[4]
 


[1] Ibid, hlm. 39.
[2] Tangson Pangaribuan,  Hubungan Variasi Bahasa dengan Kelompok Sosial dan Pemakaian Bahasa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, hlm. 4.
[3] Azzuhri, Relasi Bahasa Arab dengan Strata Sosial  Masyarakat dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi, Politik, dan Agama, STAIN Pekalongan: 2013,  hlm. 316.
[4] Ibid, hlm. 217.

2 thoughts on “Hubungan Bahasa Dengan Tingkat Sosial Masyarakat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *